Transisi energi di Indonesia tidak lagi sebatas wacana kebijakan atau investasi manufaktur. Ia telah bergerak menjadi ekosistem nyata yang melibatkan pabrikan, pemerintah, konsumen, hingga dealer sebagai garda terdepan interaksi pasar. Dalam konteks inilah peran grup dealer seperti Haka Auto menjadi semakin strategis, terutama sebagai mitra distribusi dan pengembangan pasar bagi BYD dan Danza di Indonesia.
Pabrik BYD Subang: Fondasi Transisi Energi Nasional
Komitmen BYD terhadap Indonesia memasuki fase penting dengan kesiapan pabrik kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat, yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2026. Sejak awal, fasilitas ini tidak dirancang untuk memproduksi satu model semata. BYD menyiapkan pabrik Subang sebagai basis produksi multi-produk, mencakup kendaraan listrik dan suku cadang (spare parts).
Seluruh proses persiapan menuju produksi diklaim berjalan sesuai rencana, dengan target kendaraan pertama keluar dari lini produksi (roll-off) pada awal 2026. Liu Xueliang, General Manager Asia-Pacific Auto Sales Division BYD, menegaskan optimisme perusahaan.
Menurutnya, jika tidak ada kendala berarti, mobil pertama BYD akan mengaspal dari Subang pada kuartal pertama 2026.
Menariknya, pabrik tersebut tidak akan langsung fokus pada satu model saja. BYD memastikan fasilitas ini dirancang fleksibel untuk merakit lebih dari satu model, meski detailnya masih dalam tahap evaluasi internal. Hal ini menegaskan posisi Indonesia bukan sekadar pasar penjualan, melainkan juga basis produksi strategis BYD di luar China—keputusan yang diambil setelah dua tahun mengamati perkembangan pasar otomotif nasional.
Optimisme Pasca Insentif dan Formula Produksi BYD
Meski insentif bebas bea masuk impor CBU berakhir pada 31 Desember 2025, BYD tetap berpikiran positif dalam memenuhi permintaan mobil listrik domestik pada 2026. Optimisme ini ditopang oleh dua faktor utama: kesiapan pabrik Subang dan formula integrasi produksi yang dimiliki BYD sebagai perusahaan teknologi.
Dalam dua tahun terakhir, BYD mencermati penetrasi kendaraan energi baru (NEV) di Indonesia yang telah melampaui 10 persen—angka yang tergolong tinggi di kawasan ASEAN bahkan secara global. Integrasi teknologi, inovasi berkelanjutan, dan efisiensi produksi memungkinkan BYD menekan biaya sekaligus menghadirkan produk dengan harga kompetitif. Dengan semakin banyak model yang diproduksi secara lokal mulai 2026, BYD berharap mampu menyediakan kendaraan sesuai kebutuhan dan daya beli masyarakat Indonesia.
Kinerja Pasar: BYD dan Danza Menguat
Capaian BYD di Indonesia menunjukkan hasil yang signifikan. Hingga akhir 2025, BYD membukukan angka wholesales sebesar 46.711 unit dengan pangsa pasar 5,8 persen, serta retail 44.342 unit dengan market share 5,3 persen. Hasil ini menempatkan BYD sebagai merek mobil terlaris keenam secara nasional, sekaligus produsen kendaraan listrik nomor satu di Indonesia.
Kinerja tersebut semakin kuat bila penjualan Danza ikut diperhitungkan. Sepanjang 2025, Danza D9—yang saat ini menjadi satu-satunya model Danza di Indonesia—mencatatkan wholesales 7.474 unit dan retail 7.324 unit. Secara total, portofolio BYD Group semakin menegaskan daya saingnya di segmen kendaraan listrik nasional.
Sejauh ini, BYD telah menghadirkan beragam model untuk pasar Indonesia, mulai dari M6, Atto 1, Atto 3, Dolphin, Seal, hingga Sealion 7. Respons pasar yang positif terhadap model-model tersebut menjadi dasar kepercayaan BYD untuk memperluas portofolio produknya.
Produk Lebih Aksesibel dan Ekosistem Jangka Panjang
Sejak awal masuk ke Indonesia, BYD terus mempelajari kebutuhan serta kemampuan beli konsumen lokal. Dari pengamatan tersebut, perusahaan memahami pentingnya menghadirkan kendaraan listrik yang lebih accessible agar adopsi elektrifikasi dapat meluas.
Antusiasme publik Indonesia terhadap produk BYD memberi kepercayaan diri bagi perusahaan untuk memperkenalkan lebih banyak model yang terjangkau mulai 2026.
Langkah ini bukan sekadar strategi penjualan jangka pendek, melainkan bagian dari rencana jangka panjang yang sejalan dengan investasi manufaktur, penguatan teknologi, dan pembangunan ekosistem pendukung kendaraan listrik.
Peran Dealer: Haka Auto sebagai Penggerak Pasar
Di tengah transformasi ini, peran dealer menjadi semakin krusial. Bagi Haka Auto, transisi energi bukan hanya soal menjual kendaraan listrik, tetapi membangun kepercayaan pasar, memperluas literasi konsumen, serta memastikan pengalaman kepemilikan yang berkelanjutan. Sebagai grup dealer yang memasarkan BYD dan Danza di Indonesia, Haka Auto berada di garis depan dalam menghubungkan visi global pabrikan dengan realitas kebutuhan konsumen lokal.
Mulai dari edukasi produk, layanan purna jual, hingga kesiapan infrastruktur dan SDM, dealer berperan sebagai akselerator adopsi kendaraan listrik. Dengan segera hadirnya produksi lokal BYD di Subang, peran ini akan semakin strategis—dealer tidak hanya menjadi titik penjualan, tetapi juga bagian dari rantai nilai nasional yang mendukung kemandirian industri otomotif dan transisi energi Indonesia.
Ke depan, sinergi antara pabrikan global seperti BYD dan grup dealer nasional seperti Haka Auto akan menjadi kunci agar kendaraan listrik tidak hanya tumbuh sebagai tren, tetapi sebagai solusi mobilitas jangka panjang yang relevan, terjangkau, dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Saat ini Haka Auto telah mengelola dua outlet DANZA dan 11 outlet BYD di berbagai kota besar.
Menyusul di beberapa kota besar lain di Indonesia dalam waktu dekat akan diresmikan pada tahun 2026 yaitu:
We're here for you
BYD Haka Pejaten